FESTIVAL SHOLAWAT AL-BANJARI SE-JAWA TIMUR

Dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan harlah Group Sholawat El-Makiyah ke-3 OSIS SMA Mazra’atul Ulum Paciran menggelar Festival Sholawat Al-Banjari Se-Jawa Timur kemarin (28-04-2019). Festival ini diikuti 55 group sholawat dari seluruh penjuru daerah di Jawa Timur.

Read more

PONPES KARANGSAWO PACIRAN GELAR PENGAJIAN NISHFU SYA’BAN

Acara didahului dengan munajat doa istighotsah yang dipimpin oleh Pengasuh PP. Karangsawo Paciran, K. Minhajul Abidin. Lalu dilanjutkan dengan penampilan Group Sholawat Majelis Almaqoshida pimpinan Habib Alwi dan Habib Idrus Ashegaf dari Babat, Lamongan.

Pondok Pesantren Karangsawo Paciran menggelar acara Pengajian Nishfu Sya’ban pada hari Sabtu Malam Minggu 20-21 April 2019 / 15 Sya’ban 1440 H. Pengajian dihadiri ribuan jamaah dari Paciran dan Brondong. Ada yang khas setiap acara di Ponpes Karangsawo Paciran adalah setiap jamaah yang hadir diawal acara sudah disuguhi dengan jamuan makan dan minum serta jamuan untuk jamaah.

Penceramah acara malam itu adalah KH. Syaiful Munir dari Bungah, Gresik. Meski diawal ceramahnya lokasi sempat diguyur hujan deras, namun beliau tetap menyampaikan hikmah malam nisyfu sya’ban kepada para jamaah. Beliau menyampaikan bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah termasuk perbuatan yang dianjurkan oleh Rasululllah ﷺ, hendaknya pada malam tersebut kita gunakan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan ibadah. Mengapa? Lantaran kemuliaan dan keistimewaan malam tersebut yang tidak boleh berlalu begitu saja. Plus malam Nishfu Sya’ban ini datang setahun sekali, yang boleh jadi pada tahun depan kita belum tentu dapat bertemu dengannya. Oleh karena itu, sambut dan isilah dengan serangkaian ibadah sebanyak dan sebaik mungkin seperti berdzikir, berdoa, membaca al-Qur’an, membaca shalawat, membaca surat Yasin, shalat Awwabin atau shalat Tasbih, bershadaqah, bersilaturrohim dan perbuatan baik lainnya. sehingga umur dan waktu kita tidak berlalu begitu saja.

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya atau disodorkan amal manusia untuk dilaporkan kepada Allah. Bulan Sya’ban (termasuk malam Nishfu Sya’ban) adalah malam tutup buku catatan amal, di mana amal seseorang diangkat ke langit dan digantikan dengan buku baru. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya apabila amal kita yang paling akhir ditulis itu adalah amal yang sangat baik. Atau, alangkah lebih baik ketika amal kebaikan kita disetor dan diangkat ke langit, kita dalam keadaan sedang beribadah dan berbuat kebaikan. Diantara amalan-amalan yang dianjurkan para Ulama’ pada malam Nishfu Sya’ban adalah
َ Memperbanyak Sholawat Nabi ﷺ
ALLAHUMMA SHOLLI ALAA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD SAW.

Semoga bermanfaat dan kita bisa mengamalkan taushiyah beliau malam itu. Aamiin.
Acara ditutup dengan bacaan doa penutup oleh Ust. Abdurrohim dan Habib Idrus Ashegaf. (Ried)

Kembangkan Integritas Generasi Muda NU dengan Makesta

Pimpinan Ranting  IPNU – IPPNU Turi laksanakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di MI Qomarul Wathon Desa Turi Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan 09 -10 Februari 2019.

Pembukaan kegiatan Makesta tersebut dihadiri oleh Drs Tohari selaku ketua Ranting Nahdlatul Ulama’ Turi, Pengurus PAC IPNU-IPPNU Turi, Pengurus Fatayat Muslimat Turi serta anggota Makesta berbagai delegasi dari Ranting se-Kecamatan Turi.

Firdaus Mawardi selaku Ketua Panitia menyampaikan ucapan terima kasih atas kesempatan waktu rekan rekanita beserta undangan untuk bersama sama mensukseskan acara tersebut dan minta maaf atas sambutan dan pelayanan serta segala kekurangan.

Drs Tohari menegaskan bahwa kaderisasi yang hari ini dilaksanakan merupakan amanat pimpinan cabang sebagai organisasi kepelajaran yang berada dibawah naungan Badan Otonom Nahdlatul Ulama.

IPNU IPPNU merupakan jenjang kaderisasi yang berproses lewat pengenalan Masa Kesetiaan Anggota.

IPNU IPPNU merupakan jantung kaderisasi pelajar yang eksistensi nya harus dimulai dari Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Latihan Kader Utama (Lakut).

Tidak ada yang instan dalam berproses di organisasi. Semua nya harus melalui kaderisasi formal.

Kader-kader muda NU peserta Makesta ini digembleng dengan berbagai kegiatan yang tujuannya memperdalam dan memperkokoh kembali faham Aswaja sebagai upaya pengkaderan dalam organisasi NU dan sebagai salah satu bentuk aplikasi keorganisasian,

Pada kegiatan Makesta ini, peserta juga dibekali dengan berbagai materi seperti Aswaja, Kepemimpinan, Ke-NU-an, Ke IPNU/IPPNU-an, Keorganisasian dan Analisa Diri. Selain itu peserta juga diberi beberapa materi non formal.

Hari ini, Dibawah kepemimpinan Rekanita Firda Afifatul Faizah dan Rekan Fiyus Indarkum selaku ketua Ranting yang berada di daerah Kecamatan Turi IPNU-IPPNU terus berupaya meningkatkan kemandirian organisasi. “Kegiatan IPNU dan Makesta Raya ini tanpa bantuan, tapi kita harus selalu siap untuk menghidupi organisasi,” pungkasnya’. Pungkas Fathul.

TIM NU PEDULI KABUPATEN LAMONGAN GELAR RAPAT KORDINASI

TIM NU PEDULI KABUPATEN LAMONGAN GELAR RAPAT KORDINASI Jumat,04 Januari 2019.
[Gambar 50.jpg]

Tim NU Peduli hari ini menggelar rapat kordinasi untuk mempersiapkan POS NU PEDULI kabupaten Lamongan.

“Di laksanakan nya rapat pada hari ini (Jumat,04/01/2019) “. Rapat kali ini juga mengundang dari unsur lembaga dan banom yaitu dari LPBINU, LAZISNU, PC PMII, PC ANSOR, PC IPNU-IPPNU, PAGAR NUSA dan PC FATAYAT Lamongan.

Ainur Rofiq (Ketua LPBI NU Lamongan) Mengatakan, Terkait pembentukan POS NU PEDULI ini LPBINU Lamongan menyarankan bantuan masuk berupa makanan ringan, obat-obatan, dan juga uang. Selain itu kita harus mempersiapkan orang-orang yang harus stanby untuk menjaga di POS guna untuk memperlancar segala bantuan yang masuk di POS NU PEDULI ini.
Melanjutkan, Dedik Wijayanto (Sekertaris LAZISNU) menambahkan, segala sesuatu yang di butuhkan di pos NU peduli harus di persiapkan se maksimal mungkin, mulai dari perlengkapan pos dan juga orang-orang yang di tugaskan untuk berjaga.

Selanjutnya, menurut Anas Mahfud (Koordinator Pos NU Peduli) Pembagian jadwal jaga kita isi dengan 4 orang yang stanby dari pagi sampai malam untuk bisa menerima setiap bantuan yang masuk di Pos NU PEDULI yang bertempat di kantor PCNU Lamongan.

Terkait pembentukan relawan untuk di terjunkan langsung ke tempat bencana nanti kita akan gelar rapat tindak lanjut dengan lembaga-lembaga dan juga banom yang ada di PCNU Lamongan pada akhir bulan Januari 2019 ini.

PC LPBI NU LAMONGAN SIAP MENGABDI UNTUK NU

PC LPBI NU LAMONGAN SIAP MENGABDI UNTUK NU
Rabu, 26 Desember 2018.

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama Kabupaten Lamongan yang biasanya di sebut dengan LPBINU, Hari ini menggelar rapat Ta’aruf dan Koordinasi pengurus baru dengan PCNU Lamongan.

Read more

SEMINAR KEMARITIMAN DAN PEMUDA NU BRONDONG

Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur menggelar Seminar Kemaritiman dan Pemuda NU di Aula MWC NU Brondong (2/12) yang dihadiri 75 Pemuda NU dari Kecamatan Brondong. Ketika diwawancarai media ini, Moh. Marzuqi, S.Th.I selaku Ketua GP Ansor Anak Cabang Brondong menyampaikan bahwa Pemuda NU Brondong harus lebih aktif lagi menggali potensi kemaritiman khususnya yang ada di pantai utara Kabupaten Lamongan sehingga mampu menopang perekonomian keluarganya menjadi semakin makmur dan sejahtera. Sementara itu, Syarif dari aktifis NU Cabang Lamongan menyampaikan pemuda NU khususnya yang di Pantura Lamongan berharap agar Pemuda NU mampu mengambil manfaat maritim seperti yang pernah dicontohkan oleh Alm. KH. Baqir Adelan, Pengasuh PP. Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran yang dulu semasa hidupnya Kyai ala Nabi Nuh AS. karena piawai membuat perahu nelayan. Selain itu, di Lamongan harus dibangun perguruan tinggi berbasis ilmu kelautan agar nantinya pesisir dan laut Lamongan mampu dikelola untuk kesejahteraan masyarakat nelayan.

Sementara itu, Dr. H. Mahmud Musta’in, Ph.D. dari Badan Kemaritiman PWNU Jawa Timur selaku Keynote Speaker dalam seminar pagi itu menyampaikan bahwa di antara kita mungkin banyak yang tidak tahu atau lupa bahwa ada tanggal penting di bulan September yang perlu kita rayakan dan peringati berkaitan dengan jatidiri kita sebagai sebuah bangsa. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 249/1964, tanggal 23 September ditetapkan menjadi Hari Maritim Nasional. Penetapan 23 September sebagai Hari Maritim Nasional ini merujuk pada Musyawarah Nasional Kemaritiman yang pertama pada 1963 dan penetapan Bung Karno sebagai Nahkoda Agung Indonesia. Kemudian, pada 1964 sejarah mencatat pertama kalinya Indonesia memiliki Kementerian Maritim dengan Ali Sadikin sebagai menteri pertamanya.

Pada level internasional, September juga menjadi bulan penting bagi dunia maritim karena 27 September ditetapkan sebagai World Maritime Day oleh PBB. Pada minggu ke-4 September, berbagai negara maritim di dunia seperti Australia, Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat merayakan World Maritime Day ini dengan berbagai program seperti simposium dan seminar. Sekolah-sekolah juga banyak yang mengadakan program kunjungan ke museum maritim nasional mereka.

Jika kita melihat catatan sejarah, Kementerian Kemaritiman pernah ditiadakan, dan urusan kelautan ditangani oleh beberapa kementerian yang lain sesuai bidang pada era Presiden Suharto. Memasuki era Reformasi, Pemerintahan Gus Dur mulai menggaungkan kembali jatidiri Indonesia sebagai Bangsa Maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia dengan membentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berdiri sendiri dengan Sarwono Kusumaatmadja sebagai menterinya. Memasuki Pemerintahan Jokowi, Poros Maritim Dunia dicetuskan dan dibentuklah Kementerian Koordinator Kemaritiman untuk menangani sektor maritim supaya lebih maju, terintegrasi, dan terkoordinasi dengan baik.

Semangat dan kesadaran bahwa Indonesia adalah Bangsa Maritim dengan bukti sejarah kejayaan Sriwijaya dan Majapahit ini tidak hanya perlu terus digaungkan, tapi juga perlu terus diimplementasikan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah dan kegiatan-kegiatan nyata seluruh warga negara. Pada level pelaksanaan di lapangan dan pada tataran masyarakat kebanyakan, saya masih melihat betapa kesadaran kita semua sebagai Bangsa Maritim masih sangatlah kurang.

Hal lain yang sedikit menggelitik benak saya yaitu tentang kecintaan masyarakat Indonesia akan dunia maritim. Pada saat menghadiri sebuah forum di Perth yang mendiskusikan tentang Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA), seorang narasumber membuka diskusi dengan mengajukan pertanyaan: di antara peserta siapakah yang pernah melakukan aktivitas menyelam di bawah laut? Dan, yang mengejutkan, hanya empat orang (termasuk saya) dari sekitar 100 orang peserta yang mengangkat tangannya. Ini terjadi pada sebuah forum yang mendiskusikan tentang kemaritiman. Bagaimana apabila pertanyaan itu ditanyakan pada forum yang mendiskusikan hal lain? Mungkin tidak ada yang mengangkat tangannya.

Saya jadi teringat obrolan dengan salah satu penumpang warga negara Prancis dalam sebuah penerbangan internasional dari Bandara Soekarno Hatta. Penumpang yang duduk di sebelah saya itu bercerita bahwa dia baru saja menghabiskan masa liburannya di Raja Ampat dengan aktivitas menyelam. Kemudian dia bertanya kepada saya, apakah saya sudah pernah ke Raja Ampat. Saya sangat ingin menikmati indahnya dunia bawah air Raja Ampat, tapi belum berkesempatan. Dia langsung menimpali bahwa hal itu sangat disayangkan. Dia menambahkan bahwa “you have the best diving site in the world” (Kamu punya tempat menyelam terindah di dunia). Sungguh disayangkan bahwa keindahan alam bawah air kita justru banyak dikagumi warga negara lain tanpa kita menyadarinya.

Bagi orang yang pernah berkesempatan mengunjungi Kawasan Darling Harbor dan Opera House di Sydney, pasti merasakan aura Australia sebagai Bangsa Maritim. Australian National Maritime Museum selalu ramai dengan warga negara Australia sendiri maupun turis asing walaupun tiketnya lumayan mahal. Penataan kawasan pelabuhan yang bersih dan rapi serta terjaganya lingkungan dengan banyaknya fauna menyatu dengan aktivitas pengunjung menjadi bukti besarnya daya tarik sebuah kawasan pelabuhan yang dikelola sebagai objek wisata kelas dunia. Saya belum melihat kawasan semacam itu di Indonesia. Ada beberapa objek wisata maritim di Indonesia, tapi tidak seramai, sebagus, dan terintegrasi sebagaimana kawasan Darling Harbor dan Opera House, Australia.

Hal-hal tersebut menjadi bukti bahwa masih perlu banyak upaya apabila kita ingin mengulang kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai Bangsa Maritim besar di dunia. Tidak hanya pemerintah kita yang perlu membuktikan keberpihakannya pada dunia maritim, tapi perlu upaya bersama-sama dari seluruh warga negara untuk lebih mencintai, peduli, dan mendukung dunia maritim. Dengan begitu dunia maritim akan menjadi semakin maju, dan menjadi industri yang membawa kesejahteraan.

Sebagus apapun program pemerintah dalam upaya memajukan dunia maritim Indonesia akan tidak banyak hasilnya apabila sambutan masyarakat tidak antusias. Tentu saja pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dalam mewujudkan Indonesia sebagai Bangsa Maritim.

Program pemerintah seperti pembersihan pungutan liar dari aktivitas pelabuhan, penataan manajemen pelabuhan guna mengurangi dwelling time, subsidi ke PT PELNI dan beberapa perusahaan swasta lain yang memenangkan lelang dalam program Tol Laut guna meningkatkan konektifitas antarpulau di Indonesia, program pemberantasan Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing, program pembersihan laut dengan memunguti sampah di laut yang digagas oleh banyak instansi pemerintah, dan masih banyak program lainnya yang tidak dapat ditulis satu per satu harus disambut dan didukung oleh segenap komponen masyarakat. Sudah bukan saatnya lagi berpikir sempit dan sektoral dalam menangani laut Indonesia yang memang sedemikian luas, dan tentu saja menyimpan peluang dan tantangan yang sedemikian komplek.

Akhirnya, tentu kita semua berharap bahwa Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang muaranya adalah kesejahteraan masyarakat akan segera terwujud. Persyaratan baik dari tinjauan letak geografi yang strategis (berada di persilangan dunia) dan potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia sudahlah terpenuhi. Tinggal perlu kita tingkatkan bersama minat, kepedulian, dan partisipasi kita terhadap bidang kemaritiman. Peran Nahkoda Agung Indonesia memang penting, tapi peran ABK yang tangguh, cakap, bertanggung jawab dan profesional tidaklah kalah pentingnya. Nahkoda tentu saja tidak bisa melayarkan kapalnya sendirian. Mari kita bersama-sama menjadi ABK yang membanggakan dari sebuah kapal besar yang bernama Bangsa Maritim Indonesia. (Syh)

MWC NU PACIRAN BERSHOLAWAT

Masih dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Paciran, Lamongan, Jawa Timur menggelar acara Seribu Rebana (28/11) di PP. Maslakul Huda Dengok Paciran. Acara malam itu bekerja sama dengan Majelis Ta’lim Forum Komunikasi Pecinta Sholawat Pantura diikuti oleh 50 group rebana diantaranya Ahsanun Nidhom, Al-Musthofa, Al-Mashabi, Kanzul Karomi, dan Al-Muhibbin. Yang semuanya dari wilayah Pantura Lamongan, Tuban, dan Gresik.

Gus Syahrul Munir selaku ketua panitia dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan malam itu bukan yang terakhir kalinya, sebab besok pada pertengahan bulan Desember 2018 rangkaian acara akan diakhiri dengan menghadirkan Candra Malik selaku Seniman Nasional. Dan kegiatan akan dirangkai dengan Haul Gus Dur.

KH. Ahmad Masruri selaku Pengasuh Ponpes Maslakul Huda Dengok dan sekaligus KetuaTanfidziyah MWC NU Paciran dalam sambutannya merasa bangga dengan rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional yang selalu menyedot antusiasme massa santri yang begitu luar biasa. Hal itu tidak terlepas dengan sentuhan tangan dingin oleh Gus Syahrul Munir selaku ketua panitia dibantu Ahmad Farid selaku sekretaris panitia bersama semua panitia yang kompak.

Acara malam itu dimulai dengan merdunya bacaan Al-Qur’an dan dilanjutkan pementasan seribu rebana yang dengan kompaknya mengiringi lantunan sholawat nabi yang membahana.

Acara yang digelar di tepi pantai laut itu dilanjutkan dengan mauidloh hasanah oleh KH. Abdul Ghoni Manan selaku Rois Syuriyah MWC NU Paciran. Dalam ceramahnya beliau menyampaikan, semoga semua yang hadir malam itu nantinya tercatat sebagai umat Nabi Muhammad SAW. yang mendapat syafaatnya kelak. Acara ditutup dengan do’a mauliddiba’ oleh KH. Abdul Lathif dari Ponpes Tabah Kranji Paciran.(Syh)

MWC NU PACIRAN GELAR PARADE BACA KITAB FATHUL QORIB

Kitab kuning merupakan buku keagamaan berbahasa Arab tanpa harakat, dan biasanya dikaji oleh santri-santri pondok pesantren di Indonesia. Kali ini masih dalam rangka Hari Santri Nasional, MWC NU Paciran, Lamongan mengadakan Parade Baca Kitab Fathul Qorib, yang pesertanya perwakilan dari pondok pesantren dan lembaga pendidikan yang ada di Paciran.
Kegiatan itu dilaksanakan hari Rabu, 21 Nopember 2018 di Ponpes Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar Paciran.

KH. Abdullah Adib, selaku Pengasuh Ponpes Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar Paciran dalam sambutannya menyampaikan,
“Bahwa Kitab Fathul Qorib adalah kitab yang fenomenal di kalangan pesantren, dan merupakan kitab rujukan sumber hukum agama dalam NU.” Terlebih lagi even ini diselenggarakan
di dekat Masjid Gendingan di Banjaranyar Paciran yang dulu merupakan pusat perkembangan Islam zaman Sunan Drajat berdakwah.
Kitab kuning merupakan sumber ilmu agama bersumber dari Qur’an dan Hadis. Diakhir sambutannya beliau memaparkan bahwa pondok pesantren sebagai pusat kegiatan Jam’iyah NU hendaknya tetap mempertahankan tradisinya
seperti kajian kitab kuning dan kegiatan keagamaan lainnya.

H. Ahmad Masruri selaku Ketua Tanfidziyah MWC NU Paciran dalam sambutannya menyampaikan, “Kegiatan ini sangatlah tepat karena ada pihak-pihak yang disinyalir telah merubah isi kitab kuning.” Hendaknya melalui kegiatan semacam ini akan dapat menjaga keaslian isi kitab kuning dan tradisi para santri. Beliau berharap bahwa besok pada tahun depan bukan hanya berbentuk parade saja, tapi juga berbentuk festival baca kitab kuning. Sehingga akan memacu semangat para santri dalam mengkaji kitab kuning.

Pada akhir ceremonial acara itu KH. Abdul Lathif selaku Wakil Syuriyah MWC NU Paciran menyampaikan mauidloh. “Kami sangat mengapresiasi terhadap kegiatan Parade Baca Kitab Fathul Qorib yang diselenggarakan panitia dari MWC NU Paciran yang mana kegiatan ini adalah yang perdana. Meskipun kegiatan ini sangat sederhana, akan tetapi tetap harus dilestarikan dan dikembangkan di kalangan para santri.” Diakhir mauidlohnya, beliau berpesan kepada para santri untuk lebih ditingkatkan kemampuannya lagi, khususnya terkait dengan cara membaca, maupun yang lainnya. Baik cara baca kitab kuning dan nahwu-shorofnya.

Acara dilanjutkan dengan parade baca kitab fathul qorib. Para santri dengan lancar membaca kitab kuning dengan maknanya dalam bahasa jawa pada masing-masing undian maqroqnya.
Ada kejadian yang menggelitik yaitu saat ada salah satu santri yang membaca kitab fathul qorib dengan lancar, tapi kemudian kitabnya terhembus oleh angin sehingga lampirannya terhempas dari arena parade. Tak ayal hal itu membuat para hadirin yang menyaksikan parade itu terpingkal melihat kejadian itu.

Ahmad Farid, selaku Sekretaris Panitia Peringatan Hari Santri Nasional MWC NU Paciran ketika diwawancarai media ini menyampaikan, “Bahwa parade ini diikuti oleh 15 pondok pesantren dari Kecamatan Paciran dan 10 utusan dari Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU Anak Cabang Paciran.” Dia berharap agar ke depan kegiatan ini akan lebih semarak lagi.(/SYH)

MAULID NABI MUHAMMAD DI PONPES KARANGSAWO PACIRAN

Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ponpes Karangsawo Paciran, Lamongan menyelenggarakan taushiyah agama Islam tadi malam (9/11). Meskipun cuaca disana sempat hujan deras, namun para jamaah tetap menghadiri acara yang digelar di pesantren yang terletak di tengah ladang itu. Sekitar 1500 jamaah berbondong-bondong mengikuti acara maulid malam itu.

Acara dimeriahkan dengan penampilan Group Sholawat Al-Mi’roj pimpinan Ust. Imam Zamroni dari Bojonegoro. Setelah melantunkan sholawat nabi, dilanjutkan sholawat mahalul qiyam. Para jamaah semuanya berdiri mengikuti pujian sholawat nabi, sehingga suasana malam itu semakin syahdu. Terlebih panitia acara juga menyebarkan wangian gaharu ke sekeliling lokasi acara.

Acara dilanjutkan dengan sambutan pengasuh pesantren. K. Minhajul Abidin dalam sambutannya yang disertai tetesan air mata, beliau terharu dengan antusias para jamaah untuk menghadiri acara itu, meskipun gerimis hujan membasahi jalan menuju ponpes dan lokasi acara. “Kehadiran Bapak / Ibu merupakan penghormatan dan kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad SAW.” diakhir sambutan beliau mengajak jamaah membaca doa tawashul kepada Nabi Muhammad SAW.

Acara dilanjutkan dengan taushiyah maulid oleh Habib Muhammad Habibi dari Pasuruan, dalam ceramahnya beliau beliau menyampaikan suri tauladan dari Nabi Muhammad SAW. “Setiap saat Rasulullah selalu mencintai ummatnya, akan tetapi kita selalu melupakan Nabi Muhammad SAW.” Beliau melanjutkan dengan sebuah cerita, bahwa dulu ada seorang yang ahli ibadah, akan tetapi setiap malam dia selalu bermimpi masuk neraka. Di tengah kegelisahannya dia lalu berkonsultasi kepada ulama. Dari hasil konsultasi itu dia disarankan untuk membaca kitab maulid nabi. Akhirnya, setelah membaca kita maulid nabi itu malamnya dia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. dan dia terbebas dari siksaan neraka. Menurut beliau, ada tiga hal yang dilaknat Allah SWT. yaitu: harta yang dibelanjakan bukan untuk Allah, jabatan yang diemban oleh seseorang tapi tidak amanah, dan perilaku kaum perempuan yang melebihi kaum pria.

Diakhir ceramahnya, Habib yang terkenal dengan julukan ‘Coboy Arab’ itu mengajak para jamaah untuk berdoa dengan bertawashul kepada Nabi Muhammad SAW. Banyak para jamaah yang berdoa sambil meneteskan air mata karena syahdunya lantunan doa yang dipanjatkan dzuriyah Rosulullah Muhammad SAW. itu. Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin dua tokoh agama setempat.
Alhamdulillah, acara maulid malam itu berakhir saat hujan sudah reda. Namun buruknya jalan desa dari ponpes itu membuat para jamaah harus berhati-hati melewati jalan itu. Ahmad Farid selaku pengurus ponpes itu dan mantan pengawas dana desa menyampaikan harapannya. “Semoga tahun depan ada kepedulian pihak pemerintah desa Paciran untuk meningkatkan kucuran dana desa untuk memperbaiki kondisi jalan ke Ponpes Karangsawo Paciran.”

Sehari sebelumnya (8/11) ponpes itu juga mengadakan rangkaian kegiatan maulid dengan mengadakan terapi gurah ala Rasulullah Muhammad SAW. yang diikuti oleh 100 peserta dengan penerapi Gus Ja’far dari Bangil Pasuruan. (syh)

PKPT Unisla Fokus kaderisasi

Pimpinan Komistariat perguruan tinggi ikatan pelajar nahdhotul ulama’ ikatan pelajar putri nahdlotul ulama’ (PKPT IPNU IPPNU) universitas islam lamongan (UNISLA) menggelar kegiatan Masa Kesetiaan Anggota Mahasiswa ke 6 (MAKESTAMA VI) yang mana kegiatan ini gerbang awal cikal bakal masuk menjadi anggota kader IPNU IPPNU.
kegiatan ini di selenggarakan hari jum.at-ahad (02-04/10) di kantor majlis wakil cabang Nahdlotul ulama’ karanggeneng,
yang di buka langsung oleh PC IPNU Lamongan (Rekan Zaki Fanani)

Acara ini di hadiri para pembina majlis alumni PKPT IPNU IPPNU Unisla, PC IPNU IPPNU Lamongan, PKPT-PAC IPNU IPPNU Se Lamongan, PKPT IPNU IPPNU UINSA Surabaya, PK PMII Unisla Veteran Dan serta Pengurus MWC NU karanggeneng.

Dalam kegiatan kali ini Puluhan peserta di gembleng dg berbagai materi mulai penguatan kaderisasi, ke lembagaan sampai ajaran ke NU an dan ke Indonesian dg bekal ini peserta di harapkan menjadi Mahasiswa NU yg mampu memberikan solusi pada setiap problem yg terjadi di era milenial ini.

Menurut nya, MAKESTA ke VI adalah salah satu langka kaderisasi untuk mencetak kader yang militan, yang mempunyai sikap tangung jawab, yg siap di pakai di dunia kampus, masyarakat maupun daerah masing masing.
Seruan ayo menjadi INDONESIA, ayo menjadi NU, ayo menjadi Mahasiswa IPNU IPPNU, awal kaderisasi NU. untuk memberi semangat bagi para kader kader peserta MAKESTA. Ucap ketua PKPT IPNU (Rekan agung prastio)

Pada makesta kali ini panitia penyelenggara mengangkat tema “natas nitis netes ing manunggaling ipnu ippnu”

Yang mana di harapkan kader kader bisa istiqomah dan berjuang menetaskan atau mencetak kader kader selanjutnya yng bisa menerukan organisasi IPNU IPPNU semakin jaya lagi (Red)