Berita, Opini

Pancasila, Pemersatu Anak Bangsa

MEDIA NU LAMONGAN

Pancasila, Pemersatu Anak Bangsa oleh Mahrus Ali (Ketua Lakpesdam NU Lamongan).

 

1 Oktober dikenal sebagai hari kesaktian Pancasila. Pelbagai lembaga memperingatinya -baik lembaga swasta maupun negeri- dan berbagai meme juga meramaikan dijagat Medsos sebagai bentuk syukur atas keberadaan Pancasila dan dinamikanya, sekaligus syukur kepada para Pahlawan yang meletakkan nilai dasarnya, “man lam yasykuri al-Nas. Lam yasykur Allah”.

Pastinya, peringatan layak dijadikan bukan sekedar rutinitas tahunan, tapi layak dijadikan sebagai momentum reflektif; refleksi untuk menjadikan Pancasila secara istiqamah sebagai dasar nilai kita berbangsa dan bernegara sebagai individu maupun sebagai komunitas.

Untuk itu tiga hal yang layak kita sadari dengan semangat refleksi itu adalah:
1. PANCASILA adalah ideologi bangsa. Ia hadir sebagai perekat antar anak bangsa yang sejak dini berada dalam lingkup kebhinnekaan. Setiap individu pasti punya primordialisme atas dirinya berasal dari mana dan atas nama siapa. Tapi, Pancasila mampu meleburkan kebanggaan primordial untuk NKRI;

2. PANCASILA, bukan agama dan bukan sekuler. Bukan agama sebab Pancasila tidak dihadirkan untuk atau diambil dari nilai agama tertentu, termasuk Islam. Tapi, lima nilai dasar Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, misalnya tentang ketuhanan, keadilan dan lain-lain dipastikan ada penegasannya, baik al-Qur’an maupun Hadith. Dan Pancasila bukanlah ideologi seluler sebab perumusannya melibatkan kelompok nasionalis dan kelompok islamis sehingga dalam kandungannya masih berada nilai-nilai Islam (khususnya, kaitan keesaan Tuhan).

3. Dengan begitu, upaya merongrong keberadaan Pancasila, baik dari kelompok yang mengatasnamakan agama (misalnya model kelompok pengusung khilafah dll) atau kelompok komunis, adalah ancaman bagi keragaman bangsa. Ketika bangsa terancam, dipastikan harmoni antar anak bangsa akan terancam sehingga akan muncul segerombolan orang yang bergerak merasa paling benar, dan yang lain salah. Parahnya, semua individu atau kelompok akan berusaha atas nama agama dan kelompoknya, bukan atas nama sebagai anak bangsa yang diikat oleh nilai kebersamaan, sekaligus meminggirkan primordial.

Kesaktian Pancasila ke depan mengalami berbagai tantangan. Pastinya, bisa muncul dari eksternal. Bisa juga dari internal. Karenanya, tidak ada langlah kecuali kita ikat ingatan dan praksis tindakan kita agar sesuai dengan nilai luhur Pancasila sebagai perekat anak Bangsa. Dan kita memang ditakdirkan hidup bersama dalam perbedaan.

Akhirnya, mengutip sambutan Prof. Aswadi, sebagai inspektur Upacara di Kampus UIN Sunan Ampel. Marilah kita heningkan cipta sejenak, seraya membaca Fatihah untuk para revolusi Bangsa, pendiri IAIN-UINSA yang telah mendahului, dan para pelanjut nilai-nilai Pancasila agar senantiasa kuat dan diberi taufiqNya. Al-Fatihah….. ()

Mungli, 1 Oktober 2018

Previous ArticleNext Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *