Berita, Opini

Pilihan Politik Ulama dan Kampanye Ketakutan Keruntuhan Islam

Banyak pihak yang mengkampanyekan bahwa umat muslim harus segera bangkit dan bersatu. Soal membangkitakn ghirah Islam, kita selalu sepakat namun soal term bersatu, ada yang sedikit mengganjal, Bersatu dalam term mereka adalah menjadi satu tanpa perbedaan sama sekali. Hal ini bukan saja utopis, namun justru berpotensi menjadikan umat Islam mundur karena tiadanya dinamika. Selain tentu, hal ini bertentangan dengan sunnatullah.

Banyak pihak yang mengkampanyekan bahwa umat muslim harus segera bangkit dan bersatu. Soal membangkitakn ghirah Islam, kita selalu sepakat namun soal term bersatu, ada yang sedikit mengganjal, Bersatu dalam term mereka adalah menjadi satu tanpa perbedaan sama sekali. Hal ini bukan saja utopis, namun justru berpotensi menjadikan umat Islam mundur karena tiadanya dinamika. Selain tentu, hal ini bertentangan dengan sunnatullah.

Bagi para penikmat sejarah, perbedaan pendapat dalam mengambil keputusan penting, termasuk keputusan politik dan kenegaraan bahkan muncul sejak awal Islam. Sebut saja peristiwa tawanan Perang Badar. Kala itu, Umar menyarankan agar Rasulullah membunuh saja semua tawanan, sebagai bentuk ketegasan dan setengah dari hukuman (qishas) atas kekejaman para kafir Quraiys di Mekkah kepada kaum muslim. Namun di lain pihak, muncul saran agar Rasulullah tidak membunuh para tawanan melainkan menawan mereka dan meminta tebusan. Usul ini terutama muncul dari pihak sahabat Rasulullah yang terdekat, Abu Bakar al Shidiq. Ini tentu pilihan politik dan pilihan kenegaraan. Rasulullah memilih menyetujui pendapat Abu Bakar.

Esok harinya, ketika Umar melewati Rasulullah dan Abu Bakar di bawah sebuah pohon, Umar mendapati keduanya sedang menangis tersedu-sedu. Umar pun keheranan dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang menimpa engkau sehingga sampai menangis sedemikian hebat.” Umar bertanya sambil mendekati kedua sahabatnya itu dengan rasa sayang. Rasulullah kemudian menjawab, bahwa ini gegara beliau tidak menuruti saran Umar untuk membunuh saja para tawanan sehingga beliau mendapatkan wahyu berupa teguran. Karena dengan meminta tebusan, seakan perjuangan besar dalam perang itu hanya persoalan materi belaka.

Soal lain yang ingin dijauhkan dari perbedaan dan disamakan, adalah soal sikap politik. Ada sebagian pihak yang menyayangkan dan mengkritik ulama yang dekat-dekat dengan dunia politik dan kekuasaan. Sebagai kritik, tentu hal itu sah-sah saja. Namun kritik tentu tak berlaku sepenuhnya benar. Ingat saja, bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman hingga Ali adalah ulama yang sekaligus penguasa. Begitupun Abu Musa al Asy’ari dan ‘Amr bin al ‘Ash adalah ulama dari kalangan sahabat yang pernah menjabat sebagai gubernur. Penting juga diingat ucapan ulama besar Al Ghazali, bawah agama dan politik itu ibarat dua keping mata uang, tak terpisahkan. Namun tak terpisahkan tentu bukan tidak bisa dibedakan.

Hingga sikap dan pilihan politik adalah sah adanya. Pilihan untuk berpolitik praktis atau tidak sama sekali, hanya soal pilihan. Bahkan misalnya soal pilihan untuk perebutan kekuasaan. Dalam hal ini tentu kita mengingat sejarah Mu’awiyah ibn Abu Sufyan, yang sempat berebut kuasa dan berseteru dengan Ali bin Abi Thalib hingga Hasan dan Husain bin Ali. Pada saat membahas para sahabat, ulama Ahlussunnah wal Jamaah memilih tetap menghormati mereka, karena sejatinya semua peristiwa yang terjadi hanya karena perbedaan sudut pandang dan hasil dari ikhtiyar ijtihad mereka. Ali bin Abi Thalib, sang Abu Turab adalah sahabat, keponakan dan menantu kinasih Rasulullah. Sedangkan Al Hasan dan Al Husain adalah penghulu pemuda surga, cucu terkasih Rasulullah. Sementara itu, dalam Sahih Bukhari pun tak kurang disebut keutamaan Muawiyah menurut hadits-hadits yang ada. Tentu tak pantas melakukan penghinaan pada mereka yang sudah disebut mulia oleh Rasulullah, kecuali jika ingin mengikuti sebagian kecil “kesesatan” Syiah Rafidhah. Golongan kecil Syiah yang suka mencaci sahabat.

Pilihan sebaliknya juga dipilih oleh anak dari Ali bin Abi Thalib, saudara tiri Al Hasan dan Al Husain, Muhammad al Hanafiyah. Mewarisi kecerdasan sang ayah, Muhammad Al Hanafiyah berbeda jalur dengan dua saudara tirinya yang masuk dalam gelanggang politik, Muhammad al Hanafiyah lebih banyak bergerak di dunia akademik, dunai sunyi yang berselubung nikmatnya ilmu. Namun bukan berarti beliau menghindari memikirkan maslahat umat. Beliau pernah menyertai ayahnya, Ali bin Abi Thalib sekaligus menjadi panglima dan tameng hidup bagi sang  ayah ketika perang melawan pasukan Muawiyah. Namun setelah wafatnya Ali, beliau mengubah haluan dengan menekuni dunia akademik.

Itu juga bukan melepas semua aktifitas yang berbau kemaslahatan. Suatu ketika, saat Muawiyah sedang berpidato di depan khalayak dan Muhammad al Hanafiyah berada disana, Muawiyah berseru bahwa kematian Ali dan naiknya beliau menjadi khalifah adalah takdir. Sesiapa saja yang mengingkari itu, sama dengan mengingkari takdir. Muhammad Al Hanafiyah lantas menyanggah dengan perkataan bernas, yang sayangnya difahami secara salah oleh para pengagum dan beberapa oknum murid beliau. “Tidak wahai Muawiyah, ini bukan soal qodho’ atau qodar, perbuatan manusia adalah dari manusia itu sendiri.” Karena kesalahan pemahaman atas perkataan itu pula, suatu hari nanti muncul aliran Qodariyah.

Ini berarti, bahwa perbedaan itu lumrah dan sunatullah. Ulama berpolitik praktis ataupun menjauhinya karena anggap politik bagian dari nafsu duniawi, tentu keduanya sah-sah saja. Ini hanya persoalan sudut pandang dan ikhtiyar ijtihad politik saja. Tidak lebih. Islam juga tidak akan terpuruk gegara ulamanya berpolitik dan sebaliknya. Namun secara pasti dapat dikatakan, Islam akan surut dari kejayaan jika umatnya tak melek sejarah, buta literasi dan kemajuan teknologi serta ilmu pengetahuan. Karena umat yang sedemikian hanya akan menjadi fanatik dan mudah dicekoki dengan kampanye-kampanye terselubung politisi hitam yang menyerang menggunakan kampanye ketakutan dengan slogan peduli Islam. Salam kebangkitan Islam, kebangkita ulama!.

Muhammad Asrori
Wakil Ketua PAC. GP Ansor Sarirejo. Pengabdi di Universitas Islam Lamongan, sedang menempuh studi doktoral di Universitas Islam Malang.
Previous ArticleNext Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *