Bahtsu Masail

CARA SHALAT ORANG YANG MEMAKAI SELANG AIR SENI DAN TRANSFUSI DARAH

Oleh : Muhammad Danial Royyan

A. Permasalahan :
Seorang pasien di sebuah rumah sakit mengenakan selang air seni sejak menjelang operasi prostat hingga seminggu masa pemulihan. Kondisi itu menjadi persoalan bagi pasien tersebut ketika akan melakukan shalat. Kalaupun dia sudah berwudlu atau tayammum, tetapi tubuhnya bersambung dengan kantong seni atau kantong darah yang najis. Padahal orang yang sedang shalat itu disyaratkan tubuhnya harus suci dan tidak bersambung dengan benda yang najis.

B. Pertanyaan :
1. Bagaimana cara shalat yang harus dilakukan oleh orang yang memakai selang seni dan transfusi darah ?

2. Apa yang dimaksud dengan Shalat Lihurmatil Waqti?

C. Jawaban :
1. Shalat selamanya akan menjadi kewajiban atas manusia selama di jasadnya masih ada ruh dan akal. Hanya saja, syariat memberikan keringanan, dimana manusia boleh melaksanakan shalat sesuai kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

صل قائماً، فإن لم تستطع فقاعداً، فإن لم تستطع فعلى جنب

“Kerjakanlah shalat dengan berdiri, jika kamu tidak mampu maka dengan duduk, lalu jika kamu tidak mampu juga maka dengan tidur miring”. (HR. Bukhori).

Namun jika seseorang tidak dapat melaksanakan sholat bukan karena tidak mampu berdiri, tetapi ada penghalang terhadap keabsahan sholat karena tubuhnya bersambung dengan benda najis, sebagaimana pasien yang lobang alat vitalnya dipasang selang air seni atau bagian tubuhnya dipasang selang untuk trasfusi darah, maka orang tersebut sudah masuk katagori sedang menghadapi situasi dharurat, yang membolehkan dia melakukan shalat Lihurmatil Waqti, karena kalau diwajibkan melepas selang setiap hendak melakukan shalat, maka ada kesulitan untuk melakukannya. Dan jika nanti dia sudah sembuh dan selang seni sudah dilepas maka dia wajib mengulang (اعادة) atau meng-qodlo’ shalat telah dilakukan dengan cara Lihurmatil Waqti.

2. Shalat Lihurmatil Waqti adalah shalat yang dilakukan seseorang sekedar penghormatan terhadap waktu shalat akibat tidak terpenuhinya syarat-syarat menjalankan shalat seperti suci dari hadats kecil atau besar, suci badan dan tempat shalatnya dari najis dan lain-lain. Shalat yang dilakukan dalam kondisi semacam ini menurut madzhab Syafi’i wajib diulangi meskipun sudah menggugurkan tuntutan kewajiban shalat baginya saat itu dalam arti seandainya setelah shalat dia meninggal dunia, maka sudah tidak dihukumi meninggalkan shalat.

C. Referensi :
1. Manahilul Irfàn halaman 142 :

ان تعليق الكيس المذكور الذي يحمل البول حيث كان ضروريا ومضطرا اليه ولا يمكن التخلي عنه بارسال البول في اناء منفصل عن الشخص المذكور انه يجب عليه ان يصلي اولا لحرمة الوقت ثم القضاء اه، كتاب مناهل العرفان ص ١٤٢

2. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah Juz 14 halaman 273 :

حكم فاقد الطهورين : فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء اه الموسوعة الفقهية ١٤/٢٧٣

Previous ArticleNext Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *