Opini

Bambu tiang bendera

Oleh: djenar khuzain

(ditulis buat Lakspedam PC NU Lamongan)

Tukang sol sepatu keliling itu akhirnya memilih mengasoh dibawah jajaran pohon waru yang ditanam rapi dipinggir lapangan, Sambil selonjorkan kaki ia nikmati desiran angin mengirim suara-suara dari upacara peringatan hari pramuka yang amat meriah sejak matahari baru memecah, kepada seseorang di sampingnya yang lebih dulu berada di tempat itu ia buka percakapan.

“Kang, sampean ngerti tidak Kenapa peringatan Hari kemerdekaan selalu di dirayakan dengan pembabatan pohon bambu.. apa?…..” pertanyaannya menggantung

Temannya Penjual mainan tertarik dari lamunannya, sekitar tigo puluh satu detik, si teman baru menangapi.

“… wong Sebelum kemerdekaan pun senang sudah babat Bambu, tapi gunakan buat senjata perang, kok sampean kok kayaknya gak pernah dengar kabar itukang ??”

“Kemarin sampean juga cerita….maksudku, apa. tidak ada kayu lain buat merayakan kemerdekaan ini? Kayu jati atau mahoni kan bisa toh kang. Kata orang yang ngerti kayu jati, punya banyak simbol ”

Si teman menahan senyum, tiga puluh satu detik kemudian ia berkata…

“Kayu bambu gampang dibentuk, mudah didapat, selain itu harganya lebih murah, satu batang kayu jati bisa beli banyak bambu”

“Iya, masalahnya bukan begitu kang.. Sampean kan bisa lihat sendiri, berapa banyak pohon bambu di desa kita…Semakin berkurang kan?? Bukan untuk senjata perang, kebanyakan buat pemukiman “‎si teman mengangguk, tampak tidak ingin memberi tanggapan ‎ ”

Tukang sol yang kutaksir berumur 52 tahun itu kembali ajukan tanya
“Lah sekarang, Apa menurut sampean bambu -bambu bisa bertambah banyak lagi???”
Si teman penjual mainan anak-anak yang kelihatan lima tahun lebih tua tidak menjawab
“kan bisa gini, orang-orang sekarang bisa meniru laku orang dulu. Bikin rumpun bambu. Bisa Nanam berapa pohon dulu gitu”

Si teman cepat memberi tanggapan
“Trus, Siapa yang nanam”

“Yang punya tanahlah kang, masak orang kere macam kita. orang yang banyak duit malah gampang”

“Waduh, repotnya sekarang orang yang punya banyak tanah tahu, jenis tanaman yang lebih mahal, kaya pohon jati atau lainnya. Kalau nanam bambu malam bikin tempat jadi gelap, jadi kesukaan gendruwo dan anak-anak pacaran saja. Hehehe. Begini juga, tempat terang bisa digunakan untuk dagangan”

“Apa kita gak bisa berharap pada orang banyak duit, mereka sewa tanah atau apa?”

“La dalaah Orang banyak duit malah hidupnya lebih ringkas, tidak mau ribet. Kalau Ingin bambu ya Beli. Hahahah. Mau ruangan sejuk ya beli kipas yang guwede. Hehehe . Lebih gede ketimbang ban sepeda pancal sampean. ”

“Mosok selalu begitu kang? ”

Si teman tidak menjawab. Ia menampakkan wajah yang menyimpan kenangan buruk
“Kang, aku juga pingin cerita, mungkin sampean bisa bantu lihat di lorong-lorong kampung anak-anak kita berwajah begitu ceria, tawanya mereka renya. orang tua punya semangat kembali muda.para Perempuan keluar rumah tidak hanya pintar merias diri, jalan dan pot-pot bunga-bunga. Aku terharu benar. Tapi ketika sepeda yang ku kayuh telah berada di pinggir kampung mereka, rumpun bambu berdiri kaya tubuh tak berkepala. Kang, bambu-bambu itu berkorban kang. ”

Kedua teman menarik nafas panjang hampir bersamaan
Tiga puluh satu detik kemudian tukang sol memberi komentar

“Berarti Pahlawan tanpa tunjangan dan tanda jasa itu bambu kang. Hehehe ”

“Bisa begitu juga kang. ”

“Aku liat tadi pagi, wajah sampean kok kelihatan gak kaya biasanya ”

“Ah, Tau aja sampean ini…bendera merah putih di rumah belum terpasang, ini sudah tanggal empat belas agustus. Tadi pagi ada tetangga yang curiga aku tidak cinta pada negeri ini. Bisa apa kalau dia ngumpulkan orang lalu aku dibakar”

“Kan tinggal pasang?”

“Aku gak bisa beli bambu apalagi tiang besi ”

“Berarti sampean tidak pasang bendera ”

“Malah Setiap hari berdera itu berkibar di dalam rumah kang”

“Oooh ”

Keduanya terdiam, tukang sol memungut ranting kering pohon waru, mengambar jalanan panjang yang berkelok yang kanan-kirinya di penuhi ditumbuhi.
Sedangakan si Penjual mainan anak-anak memusatkan pandangannya pada bendera berukuran besar, berkibar kibar di tiang kokoh berbahan besi terpilih. Di bawah bendera itu tersedia ruang yang menyelamatkan para pembesar pramuka dari jahatnya terik matahari bulan kemarau.
Sapuan pandangannya juga menyentuh Bendera merah putih lain yang berjumlah lebih dari sepuluh lembar berkibar tergoyang angin pantai utara yang hangat.

Tukang sol sepatu, sekali lagi melempar tanya

“Apa kita perlu minta bantuan orang china kang”

“Buat apalagi kang? Gak mau, nanti dituduh kuminis, rumahku bisa terbakar beneran. Hehehe.

“Kok pikirannya langsung gitu. wong sampean tahu setiap hari kita sudah dibantu orang china… ”

“Lah, urusannya bukan sama alat-alat yang kita gunakan buat bekerja. Mainan yang ku jual, Jarum, benang atau sadel sepeda angin sampean. Kita minta bantuan lainnya yang tidak bisa kita dapatkan sekarang ”

“Apa itu?”

“Aku dengar dari bocah sekolahan tadi, china itu negeri tirai bambu…..Sampean pahamkan yang ku maksud.. Pasti banyak rumpun bambunya di sana??”

“Masak kaya gitu? Wah Senang ya.”

” iya kang, disana Pasti adem, kalau adem Pikiran. Jadi ayem alias tenang, kalau pikiran bisa ayem orang tidak gampang cemas dan marah-marah. Eh, Apa karena itu ya orang china bisa meniru apa saja buatan manusia”

“Ah, Sampean bisa saja…. apa tadi julukan china?”
“Eeeeee, itu kang, negeri tirai bambu”

“Tirai bambu. Bagus juga”

“Oh iya kang, Aku baru ingat, juragan tusuk gigi dan tusuk sate yang ngesol sepatunya kemarin orang china… ”

“Iyaaa, tusuk gigi kan bahannya bambu, kalau bahannya besi jadi linggis. Eh eh‎ Eh. Apa orang china juga ngadakan lomba panjat pinang pake bambu ya???

“Mungkin pakai pohon pinang”

“Masak ada di sana ?”

“Gak tau kang, mungkin bisa ku tanyakan sama bocah sekolahan itu lagi. Kalau ketemu. sekalian tanya, apa orang china suka nyimpen uang koin di celengan bambu?. Aku sering dengar orang sana suka menabung”

“Aku juga dengar begitu… tapi apa masak cukup duit mereka yang buanyak itu di taruh di di celengan bambu ”

“Kan china negeri banyak bambunya”

Kedua teman yang bisa jadi akrab sejak kecil itu kembali terdiam.
tukang sol ambil air minum, glek glek glek. Ia habiskan setengah botol.
Penjual mainan melepas topinya. Ia tidak minum. Pandangannya kini tertuju pada siswa SD dengan atribut lengkap. Matahari kemarau tidak membuat mereka ambruk. Puluhan bendera merah putih dan umbul-umbul semakin liar berkibar, bak nyala api.

“Kang, Apa menurutmu boleh memasang bendera merah putih dengan kayu Waru”

“Hehehehe.. Aku tidak tau kang, pastinya boleh saja. Nanti kita tanya hukumnya apa. Kita hidup di negara hukum, tidak bisa main-main dengan hukum. mungkin adik adik pramuka bisa jawab”

“Tidak usah kang, pasti boleh aku masang pakai kayu waru. hanya bercanda tadi”

Upacara peringatan hari pramuka yang kesekian pun usai. Seluruh peserta upacara lintas usia dan gugus membubarkan barisan, memencar mengamalkan Tri satya dan Dasadharma. Bendera besar dan kecil masih berada di sana. puluhan umbul-umbul yang berkibar ditubuh pohon bambu terlihat seperti lidah api unggun

Di depanku, Penjual mainan membunyikan alat musik pengundang pembeli. Nit not niiit not. sementara tukang sol sepatu pergi membawa pertanyaannya yang belum terjawab.

Kutinggalkan lelaki berumur kira-kira 57 tahun itu yang sedang mendamaikan bocah-bocah berebutan memilih barang dagangan. Sebelum pergi kuarahkan pandanganku sebentar.

Kulihat tukang mainan anak-anak mengubah dirinya jadi seseorang yang kerap kutemui dalam lukisan lama.
Aku pun berlari sekencang kencangnya mengejar tukang sol sepatu….

 

Previous ArticleNext Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *